Tuesday, 2 October 2018

Emak Tak Pernah Ngeluh Dengan Hidupnya



Saya lahir dalam keluarga yang biasa saja. Seperti kebanyakan pasangan didesa, konon emak saat itu dijodohkan oleh orang tuanya (emih/abah (alm.)). Awalnya emak engga mau sama bapak, tapi karena ceramah orang tua tujuh hari tujuh malah, akhirnya emak mengiyakan buat dikawinkan dengan bapak. Kedua pasangan ini menjalani rumah tangga biasa saja, seperti kebanyakan keluarga didesa, mereka adalah keluarga petani, bapak kesawah untuk bertani dan emak dirumah mengurus rumah dan memasak.

Sampai pada akhirnya saya lahir, emak dan bapak begitu bahagia karena anak yang diidamkan akhirnya terlahir. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, mereka berdua saling mengasihi membesarkan anak mereka, emak dirumah dan bapak pergi mencari nafkah disawah. Bapak juga dulu adalah seorang penggembala kerbau dan kambing.

Selain mengandalkan pemberian nafkah dari bapak, emak juga sesekali mencari tambahan uang jajan dengan menjual daun melinjo muda atau sekedar membantu abah dibalong (kolam ikan) agar saat pulang diberi ikan untuk lauk pauk makan hari itu.

Bapak adalah petani yang tanggung, emak adalah ibu rumah tangga yang perkasa. Bapak kalo mengurus sawah mengairi tanaman padi itu biasa sampe malam hari, mau hujan, mau angin biasanya sebelum sawah terairi dengan penuh bapak pantang pulang.

Pernah sekali, bapak kesawah untuk mengairi sawah, kebetulan hari itu hujan lebat turun, sampai jam sembilan malam bapak tak kunjung pulang, emak cemas dirumah dan mondar mandir kerumah tetangga yang biasa kesawah kali aja liat bapak disawah, namun tak ada yang melihatnya. Sampai pada akhirnya bapak datang tepat tengah malam. Emak nanyain nekapa bapak lama disawah sampai lewat tengah malam, bapak menjawab 'dia nyari cangkul karena hanyut kebawa air bah disungai'. Namun cangkulnya tidak ditemukan karena hanyut.

Emak juga punya kisah yang tak kalah ngenesnya. Suatu hari emak manjat pohon melinjo untuk memetik daun mudanya yang bisa dijual. Emak manjat pohon pakai rok samping merumbai, saking beratnya badan emak karena saat itu sedang hamil adik saya makanya badan emak gede, emak menginjak dahan pohon yang rapuh dan 'bruakkkk' emak terjatuh dari pohon melinjo. Emak mengalami pendarahan kandungan dan ternyata emak keguguran.

Seharusnya emak punya empat anak, namun dua meninggal dan duanya lagi yaitu saya serta adik saya (anak ke-4). Anak pertama itu saya, kedua keguguran, ketiga meninggal diusia dua tahun karena sakit dan anak ke empat yaitu adik saya yang perempuan.

Saya masih ingat ketika adik kedua meninggal (yang meninggal diusia dua tahun_ *laki-laki) emak begitu terpukul dalam kesedihan, menangis tiada henti dan sampai papaeheun (kalo bahasa kampungnya). Sebulan emak berdiam diri dan takg mau apa-apa, hanya mengurung dikamar dan meratapi nasib anaknya yang telah meninggal dunia. Saya saat  itu sebenarnya masih anak-anak, 75% dari memori itu bisa saya ingat.

Dalam hidupnya, emak juga termasuk orang yang kurang beruntung. Emak menjalani hidup dengan kekurangan. Kata emak, bapak semasa mudanya adalah seorang peminum dan preman kampung yang kerjaannya teler dan mencuri telur ayam tetangga untuk dijual. Emak banyak cerita tentang bapak, bapak yang pemabuk dan pemarah emak ceritakan dengan panjang lebar. Saya suka mendengarkan cerita emak tentang bapak, dengan penuh haru saya selalu menemani emak bercerita. Mungkin dengan curhat kepada anak bisa meringankan beban perasaan emak saat itu.

Namun dengan uraian cerita emak yang panjang lebar tidak serta merta membuat saya benci kepada bapak, walau bagaimanapun dia adalah bapak saya. Bapak yang tidak punya kisah namun mempunya impian mulia dalam hatinya. Impian yang indah untuk anak-anaknya yang ia besarkan dengan susah payah bersama emak.

Bapak juga dulu sempat merantau ke sumatera untuk bekerja, hampir lima tahun disana. Setahun sekali pulang kedesa untuk sekedar menengok anak istrinya dan keesokan harinya berangkat kembali. Saya masih ingat, kalo bapak datang dari sumatera pasti bawa oleh-oleh susu dancow box besar, biasanya bapak bawa banyak. Juga tentunya uang untuk emak bekal dirumah. Bapak adalah seorang sopir kendaraan berat, bapak adalah seorang kuli bangunan, bapak adalah seorang teknisi alat berat dan oh iya, saya ada cerita tentang bapak yang bekerja alat berat disumatera. Bapak masa mudanya adalah seorang yang mengerti mesin dan sopir tentunya, bapak bekerja diperusahaan pertambangan kecil. Saat itu, mungkin kalo bapak tidak terlilit masalah kekerasan rekan kerja, bisa saja saat ini bapak adalah karyawan pertambangan yang sukses dan kaya raya. Tapi nasib berkata lain, bapak adalah seorang pemarah, bapak terjerat masalah pribadi dengan rekan kerja, saat itu terjadi pertengkaran hebat antara bapak dan temannya, sampai pada satu ketika bapak memukulkan kunci inggris yang sangat besar kemuka temannya itu sampai tersungkur dan bapak harus kehilangan pekerjaannya karena kejadian ini.

Bapak dan emak sering mengalami pasang surut rumah tangga, suka mesra tak jarang juga terjadi pertengkaran. Pernah emak harus pisang ranjang dengan bapak karena ada masalah dan itu terjadi lumayan lama. Yang jadi korban adalah anak (saya). Apa-apa susah tanpa emak, bapak tidak terlalu lihai mengurus rumah tangga. Tetep emak yang paling hebat.

Emak adalah perempuan yang tanggung, yang bekerja begitu keras. Semasa saya kecil (usia SD/SMP) emak adalah pekerja yang luar biasa, emak mulai berdagang sayuran semenjak saya masuk SD. Setiap jam dua dini hari emak pergi kepasar untuk belanja sayuran dan ciki, emak biasa naik angkutan desa langganan, jam setengah enam baru datang kerumah. Sepanjang hari emak berdagang melayani pembeli, memasak makanan untuk anak dan suami, beres-beres rumah dan sore harinya emak harus ke balong (kolam ikan) untuk mencuci perabotan dan baju. Tidak jarang emak mencuci sambil hujan-hujanan dibalong (kolam ikan). Biasanya emak baru pulang mencuci jam magrib, entah bagaimana rasanya, badan emak begitu kuat saat itu. Mau kehujanan, kepanasan, kelelahan, kemalaman, emak tidak pernah sakit, sangat jarang sakit. Itu yang saya lihat.

Emak juga tidak pernah terlihat kelelahan walau bagaimanapun banyaknya pekerjaan rumah, beda dengan saya saat ini, nyuci sedikit saja sudah hah heh hoh lemes. Emak tidak pernah mengeluh atas kelelahan yang ia derita, tidak pernah putus asa walau menjalani kehidupan yang kurang membahagiakan. Emak tergolong orang yang tidak terlalu sejahtera, beda dengan tetangganya yang banyak meraih kebahagiaan ekonomi. Emak tidak pernah mengeluh dengan itu semua, seolah dia sangat ikhlas denga nasibnya.

Kini emak mulai terlihat menua, badannya mulai membungkuk, rambutnya mulai beruban. Kedua anaknya sudah berumahtangga dan emak masih bekerja seperti dahulu.

Saya melihat emak masih menyimpan rasa hawatir terhadap kedua anaknya, masih ada rasa was-was dengan keadaan anaknya yang sudah berumahtangga. Akhir-akhir ini emak terlihat mudah letih dan kelelahan jika habis bekerja. Mungkin karena usia, emak mulai rapuh. Saya teradang khawatir dengannya, melihat emak masih baku hantam dengan pekerjaan rumah yang selalu saya menumpuk, masih berdagang sayuran yang merupakan usaha kesayangannya. Emak masih setia dengan itu semua, masih menikmati kesibukannya.

Saya terkadang khawatir, ingin rasanya menegur emak untuk agar tidak bekerja terlalu keras, namun emak selalu menolak. Katanya kalo dia memilih diam, dia akan kehilangan gairah hidup. Jadi kesibukan sudah menjadi style emak saat ini, yang membuat emak tetap sehat.

Saat ini saya hanya bisa berdo'a semoga emak dan bapak sehat selalu, dimudahkan rizki dan segala mimpi terhadap anaknya bisa terkabul. *)RED_